Belanja ke “Pajak” yuk!

Seperti biasa, setiap ahad atau sabtu pagi saya turut menemani istri belanja ke “pajak” tradisional Simpang Limun berkisar 3 KM dari rumah kami. Belanja kok di pajak? Bukankah seharusnya pasar. Ya begitulah, sampai sekarang saya juga masih bingung kenapa orang Medan menyebut pajak sebagai pasar. Ironisnya, justru pasar bermakna jalan raya dalam beberapa omongan masyarakat di sini.

Nuansa “pajak” adalah gambaran kehidupan yang sungguh keras. Berbagai karakter manusia dapat ditemukan di sana, semudah memperoleh ikan asin yang terjajal rapi depan etelase dagangan wak Amin, siapa wak Amin? Sudahlah, lupakan ia sementara.

Di dalam “pajak” ada pedagang ikhlas berjuang menafkahi keluarganya, ada juga pedagang “ugal-ugalan” yang senang menipu dan khianat pada customernya. Terdapat pembeli yang pemurah tak pernah menawar, ada juga pembeli yang hobi nanya saja tanpa membeli satu item apapun, alasannya mahal lah, kurang cantik lah, ntahlah. Ujung-ujungnya ia pergi tanpa kesan dan menggantung perasaan sang penjual. Sakit.

Kadang di dalamnya kita temukan keharuan, ada yang menangis bombay. Ada juga yang tertawa lebay. Ada yang marah-marah sombong, ada juga yang senyum-senyum gak jelas alias pesong. Pokoknya, serba-serbi “pajak” penuh dengan pernak-pernik.

Jika Anda ingin menjadi pemimpin, silahkan bergaul ke ahli “pajak”. Jika Anda ingin mengolah rasa, silahkan jalan-jalan ke “pajak”. Tapi ingat ini bukan pajak kenderaan atau pajak bumi dan bangunan, tapi pajaknya orang Medan. Karena di sini Anda akan mendapat persahabatan baru.

#salamcinta

MERDEKA

“MERDEKA…”, teriakan patriotik membahana dan menggaung di ufuk tanah air. Pagi itu Soekarno tampak lemas dan badannya panas dingin, mungkin faktor kelelahan sehari sebelumnya dimana ia berdiskusi hebat di kawasan Rengasdengklok bersama pemuda-pemuda yang mendesak sang founding father untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah tokoh sudah hadir di rumah Faradj Martak, saudagar Arab-Indonesia yang telah menghibahkan rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat sebagai tempat bersejarah hari kemerdekaan Indonesia. Soekarno masih terbaring di tempat tidurnya, ia dihadapkan pada beberapa pilihan yang akan merubah sejarah bagi bangsa ini.

Satu sisi, kalau ia tetap beristirahat di sini maka hari sejarah ini bisa tidak terwujud. Atau bila ia tak segera bangkit maka bisa jadi kesempatan emas ini tak dapat dimilikinya dan direbut tokoh lain. Saat inilah ia harus membuktikan jiwa patriot dan nasionalisnya. Melawan sakit, melawan sedikit siksa dan derita serta bangun dengan pilihan yang tepat. Sehingga sejarah membayar lunas pengorbanannya. Namanya tetap dibaca setiap apel tahunan, namanya tetap dikenang selama negeri ini masih berdiri kokoh di muka bumi.

Jika dahulu, presiden pertama RI itu bangkit dengan niat untuk membebaskan kedzhaliman yang diselenggarakan penjajah terhadap bangsanya, tentunya tak terkira amal jariyah yang pernah beliau lakukan. Jika dahulu, ia pernah berniat bangkit untuk menerapkan keadilan bagi bangsa ini, pasti ganjaran besar yang ia terima.

Kemerdekaan adalah ladang amal bagi para pahlawan terdahulu, kemerdekaan bukanlah wadah seremonial untuk mengumbar aurat, melakukan keburukan, melecehkan makna kemerdekaan dalam merayakannya.

Kalau ditanya, apa makna kemerdekaan bagi saya, maka akan saya jawab, “kemerdekaan adalah kemandirian bangsa dalam berkarya (amal) jariyah tanpa dibayang-bayangi pihak asing”.

#salamcinta

Ma…jangan ghibahi aku, please!

“Ntah kenapa ya, anak gue tu payah banget, nakalnya kelewatan, jorok plus bau lagi, omongannya tu nyakitin bathin”. Seorang ibu berkata. Teman obrolannya pun menimpali, “lu masih untung jeng…anak gue, ya elaa, kalau gak buat rusuh di rumah, gak puas hatinya, sama tu kayak babenya, nurun kali ya, hahaha”.

Di sudut sana seorang anak kecil yang diceritakan ibunya tampak malu dan gusar hatinya sebab menjadi bumbu manis basa-basi orang tua yang bertemu tanpa topik diskusi yang jelas. Ia tak mampu berbuat apa-apa, dalam hatinya ia mengutuk keadaan dan ingin saja hilang seketika meninggalkan tempat itu, sebab ia merasa biang masalah dan pasti selanjutnya siapapun menerima informasi tentang dirinya itu akan melihat dengan kesan negatif.

Anda tahu dampaknya? Pikiran seperti itu akan membekas pada memorinya, dan setiap waktu diksi “nakal, jorok ataupun bau” akan terulang-ulang dalam dzikirnya, dan akhirnya akan ada magnet yang menariknya dengan kuat untuk mewujudkan itu semua, sehingga akhirnya ia benar-benar nakal, bau dan jorok sejati.

Ghibah, ya ghibah. Anda tahu ghibah? Rasul pernah menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu hal yang terkait orang lain yang apabila ia mengetahui pembicaraan itu, pasti ia membencinya. Lebih dahsyatnya, ghibah ibarat memakan bangkai saudara sendiri yang sangat menjijikkan bagi kita.

Banyak mama-mama bila bersua mengadakan perlombaan ghibah berjama’ah, dan yang paling buruk justru yang dighibahi adalah anaknya sendiri ; yaitu darah, tulang dan dagingnya sendiri. Ishhh..sangat menjijikkan sekali, bagaimana mungkin ia sanggup memakan bangkainya sendiri. Sekeji binatang buas sekalipun, tak sanggup memakan bangkainya sendiri. Dan yang lebih parah, dengan melakukan itu maka Anda sesungguhnya telah merusak spikologis si anak.

Didiklah ia dengan kalimat motivasi, ajarilah ia dengan berpikir positif, bimbinglah ia dengan keteladanan. Maka kelak ia akan menyayangimu dengan tulus. Ketika ada beberapa orang tua mengadukan masalah anaknya yang “durhaka”, saya tak pernah serta merta memvonis anaknya lah yang bersalah, selalu saja setelah dirunut dari awal jalan kehidupan si anak, maka akan kita temui ada episode intimidasi bathin yang pernah diperoleh anak sebelum ia membalikkan keadaan itu pada hari ini.

Kekuatan kata-kata dapat menembus ruang imajinasinya, power sebuah kalimat dapat menggerakkan alam bawah sadarnya. Sehingga terlahirlah sebuah ungkapan, “satu peluru hanya dapat menembus satu kepala, tapi satu kata dapat menembus jutaan isi kepala”.

Stop bullying anak, stop ghibahi anak. Berikan haknya untuk dimuliakan, kelak ia akan memuliakanmu…

#salamcinta

Cinta Tergadai

Ibrahim sejak muda sudah diuji cinta dan pengorbanannya. Apakah ia lebih mencintai ayahnya atau keyakinannya. Ayahnya sebagai pengerajin “tuhan” (pembuat berhala) memerintahkan dirinya untuk memasarkan benda thogut itu kepada orang lain. Jiwa marketing turunan ayahnya tiba-tiba hilang sesaat, namun ia tetap berkorban menjual barang haram tersebut dengan gaya khasnya tanpa melukai perasaan ayahnya, dan pastinya tidak melukai tauhidnya pada Allah. Ibrahim pintar mengelola cinta, cintanya kepada Allah tidak menghanguskan cinta ayahnya kepadanya.

Ibrahim pernah berdiskusi hebat kepada oposisi dakwahnya Namrud. Namrud terpojok dan diapun kalah telak tanpa mendapat angka subsidi sama sekali, skor kosong berada di pihak Namrud. Ia murka, hingga Ibrahim diberi sanksi untuk dibakar hidup-hidup. Ibrahim menerimanya dengan keridhoan dibalut untaian doa pembuktian cinta Allah kepadanya. Saat itu ia sedang diuji antara pengorbanan jiwanya dengan cintanya pada Allah, saat itu ia sukses mempertahankan cintanya tanpa tersakiti sedikitpun oleh jilatan api yang membara.

Kembali Ibrahim diuji cintanya, di saat cintanya sedang memuncak terhadap istrinya siti Sarah, ia didorong sang istri untuk menikah kembali demi mendapatkan buah hati, sebab ada kekhawatiran pada diri mereka belum memperoleh dzuriyat penyambung cinta pewaris dakwah. Akhirnya, Ia melakukan pengorbanan cinta tanpa melukai perasaan istrinya sama sekali.

Setelah kelahiran Ismail melalui rahim bunda Hajar, kecintaannya kembali diuji, dan itu berketepatan saat cintanya sedang membuncah terhadap Ismail kecil yang menggemaskan. Ia diperintah untuk menyembelih Ismail, itupun langsung dieksekusinya. Pengorbanan cinta yang utuh, namun lagi-lagi pengorbanan itu tak melukai Ismail sama sekali.

Cintanya juga pernah diuji Allah terhadap keluarganya saat ia diperintahkan untuk meninggalkan anak istrinya di Bakkah tempat gersang tak berpenghuni. Tapi, ia kembali sukses membuktikan pengorbanan cinta terhadap Allah tanpa menyengsarakan keluarganya tersebut. Kini daerah itu subur, makmur dan sejahtera.

Cinta identik dengan pengorbanan, pembuktian cinta dilalui lewat pengorbanan, pengorbanan cinta yang hakiki adalah tanpa mengorbankan cinta yang lain. Justru dengan membuktikan cinta kita pada sesuatu lewat pengorbanan, saat itu juga cinta kita ikut mekar pada objek cinta lainnya.

Pengorbanan sejati adalah yang menumbuhkan, bukan menggugurkan. Menghidupkan, bukan membinasakan. Memotivasi, bukan mengintimidasi.

Satu hal yang tak boleh dilupakan, Nabi Ibrahim saat kecil sudah mencari hakikat cintanya lewat pengembaraan tafakkur mencari dzat yang pantas untuk ia cintai selamanya, bukan bulan dan bukan pula matahari. Ia adalah yang menciptakan keduanya. Maka wajar ia bergelar kekasih Allah (kholilullah). Karena cinta di atas cinta. Cinta yang tak terbukti ibarat cinta yang tergadai.

#salamcinta

Wukuf Cinta

Saya mencoba menyapu tatapan di sekitar, terlihat pemandangan haru yang menggetarkan jiwa bagi yang menyaksikan. Semua hamba Allah berbusana satu, berwarna satu, di tempat yang satu, di waktu yang satu dan bermunajat pada yang Maha Satu. Isak tangis terdengar dari sudut-sudut kemah, beberapa wajah tanpak sembab mengalirkan embun keinsyafan dari bola matanya dan selanjutnya mengalir deras diantara sisi wajahnya. Bibir-bibir suci melantunkan berbagai zikir taubat, tertunduk lesu di atas hamparan sajadah permadani pasir yang membentang.

Meski panas terik, tak mengganggu ritual paling sakral dalam ibadah ini, berantrian kamar mandi dengan kesabaran sungguh sangat berbeda ketika antri di lokasi antri kamar mandi umum terminal atau bandara. Bahkan masih ada yang sambil berzikir dan membaca Alquran saat menunggu giliran.

Beberapa orang tak mampu mengontrol dirinya hingga menangis sesunggukan, ada yang meraih HP nya untuk menghubungi keluarga atau temannya hanya sekedar memohon maaf. Yang kaya, yang berpangkat, yang terkenal, pada saat itu tak dikenal. Semua sibuk dengan munajatnya masing-masing..subhanallah, itulah suasana wukuf di Arafah yang saya saksikan dalam ibadah haji tahun 2008. Tak terasa saya pun saat itu terbawa suasana, gelombang kesyahduan pasti akan menggetarkan jiwa-jiwa lemah sampai pada insan yang memiliki hati keras sekalipun.

Wukuf bermakna berdiam diri, Arafah adalah tempat dimana Adam dan Hawa pernah dijumpakan Allah kembali setelah mereka terpisah di bumi akibat kesalahan memakan buah khuldi. Wukuf di Arafah bagian dari rukun haji yang wajib dilaksanakan, bila ada yang tak melaksanakannya maka ia wajib mengganti hajinya pada tahun mendatang. Dan inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah.Karena ketatnya ibadah ini, sudah pasti terdapat hikmah yang besar di dalamnya.

Wukuf menyiratkan kepada kita pentingnya bertafakkur atas perjalanan hidup ini, dia bagaikan halte tempat istirahat bagi kita untuk melanjutkan perjalanan, mengumpulkan kembali energi yang besar, menyiapkan bekal yang banyak dan tentunya menata hati dan fisik dalam mengantisipasi lika-liku jalanan yang misterius.

Selesai shalat fardhu kita disunnahkan berzikir, di saat akhir Ramadhan kita disunnahkan i’tikaf, dulu ketika Nabi Muhammad SAW sebelum dilantik menjadi Rasul juga senang berdiam diri di gua Hira’. Ibnu Abbas pernah berkata, tafakkur sesaat itu lebih baik daripada qiyamullail.

Beberapa kepercayaan menganggap bahwa meditasi adalah cara ampuh mendapatkan ketenangan, salah satu bentuk olahraga yang disebut Yoga juga dianggap mampu menghilangkan pikiran negatif dan menghasilkan energi. Tapi bagi Anda yang mendambakan bahagia, cukup berwukuf dan bertafakkur mengumpulkan energi tersebut, tak mesti wukuf di Arafah bila belum mampu, berwukuflah di tempat dan waktu yang Ia cintai.

#salamcinta

RODA (sekedar cerita)

Roda…ya roda…

Bila seseorang ditanya apa komentar dan bayangannya mengenai roda. Kebanyakan akan menjawab bahwa roda simbol perputaran, seperti kehidupan yang berputar kadang kita berada pada titik puncak dan kemudian kita terguling dan bisa saja berada pada posisi paling rendah. Atau bahasa lainnya, terkadang di atas dan terkadang di bawah, kemudian ada kalimat penutup, “makanya jangan sombong!”. Begitukan? Nah, apakah kita termasuk yang mengatakan demikian?.

Saya ingin mengajak Anda melihat roda dari perspektif yang lain. Roda menurut saya memiliki energi yang senantiasa mengitarinya, sifat dan tugasnya adalah berputar, dia tak diharapkan memiliki peran lain daripada itu, mungkin menahan beban di atas dirinya dan itu bukanlah tupoksi dasarnya, fungsinya adalah berputar dan mengantarkan beban di atasnya berpindah ruang dari suatu titik ke hotspot lainnya.

Kalau kita berbicara di waktu pagi begini, sepertinya lebih enak kita kaitkan pada usaha kita mencari rezeki atau nafkah pada moment yang berharga ini.Ibarat roda, pagi ini kita semua berputar dan beredar pada lokasi yang berbeda, ada yang berada pada porosnya (kaku/stagnan/rumah, mobil, kantor), ada juga yang sesekali berspekulasi melawan arus kebiasaannya (dinamis), untuk tipe yang kedua ini memandang bahwa rezeki bisa dari mana saja, penghasilan tidak tetap setiap bulan, dan kebanyakan doanya lebih khusuk dan tawakkalnya lebih tinggi.

Roda yang berputar membutuhkan energi yang mendorong atau menariknya, bila berada pada jalan yang menurun, cukup sedikit energi yang menolak maka roda akan lebih cepat berputar dari kebiasaan, tapi tidak selamanya menurun. Namun bila berada situasi tanjakan, meskipum roda itu diberi energi lebih dari besar, terkadang dia berputar tetap lambat dan terkesan berat meskipun bebannya tak berubah.

Tapi suatu yang pasti bahwa roda tersebut wajib sampai pada titik yang diharapkan.Kita terkadang tak sadar dalam memahami rezeki ini, suatu saat dengan ikhtiar yang sama penghasilannya tetap, tapi suatu saat dengan ikhtiar yang lebih kuat namun penghasilan yang diperoleh juga tak berubah, pernah juga di saat kita bersantai-santai malah kita mendapati hasil yang besar.

Wah..kok bisa begitu? Itulah perjalanan roda. Kita harus bijak melihat perjalanannya. Tujuan kesuksesan sudah pasti kita rencanakan, tinggal melihat timing yang tepat, kapan waktu kita mesti bersantai namun tetap sukses dan berlimpah rezeki, serta kapan kita mesti lebih bekerja keras agar roda tetap berputar dan tidak menjatuhkan beban di atasnya.

Maka kebijakan kita dalam melihat kondisi tersebut dapat dikatakan dengan kerja yang penuh kecerdasan. Bila Anda masih senang mengeluh saat ini dengan penghasilan yang diperoleh, silahkan duduk bertafakkur di depan roda Anda dan pandanglah dengan jeli jalan di depan yang akan dilaluinya, kapan Anda akan memberi energi besar untuk menjalankannya, dan kapan Anda tak perlu berkeringat namun tetap sampai pada finish yang dituju.#salamcinta

Teman di Jalan Hidup

Allah menciptakan manusia begitu banyak di alam semesta yang luas ini. Menurut informasi, ada sekitar 7,6 miliar manusia saat ini hidup di dalam bumi, bahkan menurut analisa PBB pada tahun 2050 kelak manusia bisa mencapai 10 miliar jiwa. Fantastis.

Tahukah Anda, dari jumlah yang besar itu ternyata tak ada seorangpun yang mampu menemui satu persatu manusia tersebut. Bahkan, ketika kita berangkat ke luar negeri sekalipun bisa juga masih bertemu dengan orang yang sebelumnya sudah kita kenal. Dan tanpa sengaja, ketika kita berangkat ke suatu daerah yang masih asing buat kita, justru bukan kita mencari kenalan baru dan mempelajari karakter budaya setempat, tapi langsung cari nomor kontak dan mengingat-ingat siapa teman kita yang mukim di tempat itu untuk kopdar.

Dan yang unik, bila kita berkenalan dengan teman baru, ternyata teman akrab selama ini bila dihubungkan dengan teman baru ini sudah saling mengenal sebelumnya, inilah dengan latah kita berkata, “ternyata dunia ini kecil ya”. Apa benar dunia ini kecil? Tidak bro…sekitar 510,1 juta KM persegi luas bumi, dan itu tidak kecil, kalau tidak percaya, mari kita ukur kembali..hehehe

Allah pasti mampu mempertemukan kita dengan seluruh makhluknya, namun kenapa kita mesti hanya berjumpa dengan sebahagian kecil saja. Yakinlah, tidak ada yang kebetulan, Allah yang mempertemukan kita dengan hambanya yang lain. Bila Anda selalu bertemu dengannya selama hidup dunia, hilangkan kedengkianmu padanya, karena tanpanya hidupmu akan susah sebab engkau hanya ditakdirkan berinteraksi dengannya di sebahagian usiamu.

Temanmu di dunia adalah orang orang spesial yang beruntung bersua denganmu, pastikan ia tersenyum bila menatapmu, memelukmu erat dengan lirihan doa untuk kebaikanmu. Sebagaimana waktu usiamu pernah habis dulu bersamanya, tapi dia juga banyak kehilangan umur untuk tertawa dan bersedih bersamamu.

Jika kita duduk termenung, Allah mempertemukan kita dengan mereka pasti memilili arti. Dulu waktu muda penuh kesan keceriaan bersamanya, kemudian berpisah sesaat dan kita mengenal orang lain yang baru, dan ternyata berjalannya waktu kita bertemu kembali dengan teman lama kita. Kesan dan memori lama kembali terajut dan seterusnya kita akan merangkai kesan baru untuk ke depan bersamanya.

Bahkan engkau lebih dahulu mengenal dengan jelas wajah temanmu itu sebelum mengenal wajah pasangan dan anak-anakmu saat ini.

Masa masa ketika kita tertawa dulu tanpa beban, kini kita tertawa dengan hati yang bergemuruh, tapi itu bukan alasan bahwa engkau meninggalkannya, namun rangkullah kembali dengan pelukan hangat sambil doakan kebaikan untuknya. Karena bisa jadi dialah yang akan mendoakanmu selalu selepas engkau berpisah darinya, iya…berpisah.

#salamcinta

AIR CINTA

Sebelum makan biasanya saya sudah memastikan kalau air minum sudah tersedia, saya akan merasa repot jika mengambil air minum di sela-sela sedang melahap makanan.

Ketika hendak bekerja, biasanya botol minuman juga sudah disiapkan buat saya. Apalagi jika mau mandi, biasanya saya memakai air, lhoo?

Dalam ilmu pengetahuan disebutkan bahwa tubuh manusia mengandung unsur air sekitar 60% sampai 70%, angka yang banyak untuk sebuah muatan. Makhluk hidup semuanya membutuhkan air, dan dengannya mereka hidup. Benda mati seperti mobil saja membutuhkan air, dalam mengisi air radiator kita diharuskan mengisinya dengan air bersih murni, bila sembarangan maka mesin bisa bermasalah. Apalagi dengan tubuh kita bila berisi air yang tak baik?

Makanan dan minuman yang dikonsumsi akan berubah zatnya menjadi darah, keringat, air mata, air seni dll, kemudian zat itu melekat pada tubuh dan mengalir dalam sel sel tubuh kita. Bisa tidak dibayangkan jika yang mengalir itu adalah cairan kotor hasil yang kita konsumsi. Makanan atau minuman yang tak baik akan mengalirkan yang tak baik, sumber hasil keduanya yang tak baik juga akan memberi penyakit yang tak baik.

Maka jangan heran, ada makhluk yang begitu ketat menjaga pola gizinya, justru ia memiliki simpanan penyakit yang akut. Adakalanya seorang yang tak berakal sekalipun, berbaju kumuh dan memakan sesuatu yang kotor, tapi tetap sehat dan kuat. Kalau begitu letak masalahnya bukan pada gizi atau bersih saja, namun ada ketentuan Tuhan yang tak mudah ditebak, Ia menjadikan sesuatu itu begitu mudah.

Berhati-hatilah menyiram aliran sel tubuhmu dengan sembarang bentuk cairan, tanaman yang subur bila disiram dengan cairan pembersih lantai kelama-lamaan juga akan layu. Maka peliharalah kesehatan bathin dan badan kita dengan memelihara cairan yang kita persembahkan untuk tubuh kita, bukan asal cairan, agar segala kebahagiaan mampu diperoleh. Dan kelak cairan itu bila harus dialirkan dalam bentuk darah, air mata ataupun keringat dalam bentuk yang diridhoi Allah, bisa dalam jihad, melahirlan anak, mencari nafkah atau menangisi dosa sendiri. Itulah air cinta.

#salamcinta

Perjalanan Malam

Malam ini saya melakukan perjalanan luar kota untuk mengisi training menggunakan moda kereta api, ntah kenapa belakangan ini perjalanan menggunakan transportasi si ular besi lebih terasa nyaman dan santai. Menurut jadwal kami berangkat dari Medan pukul 22.30 WIB dan tiba insya Allah di Rantau Prapat pukul 03.30 WIB dini hari.

Dalam gerbong eksekutif yang kami tumpangi, terlihat hampir seluruh kursi penuh dengan berbagai karakter penumpang dan tujuan yang berbeda-beda. Meskipun kepentingan yang beraneka ragam di tempat tujuan, tapi yang pasti pilihan tetap satu dalam mencari kenyamanan atau kebahagiaan dalam menaiki transportasi berplat merah BUMN ini.

Sribilah, itulah nama kereta kami malam ini, dinginnya udara luar dengan gesit ditembusnya dengan cepat diantara heningnya malam dan sautan binatang malam yang membentuk harmoni lagu selamat jalan. Sesekali tawa bahagia terdengar dari urutan kursi paling belakang, sedangkan di belakang saya ada sepasang suami istri yang sudah lanjut usia menikmati kebahagiaan ini dengan sama sama hening, ntah apa yang mereka pikirkan, barangkali dulu kisah romantisme cinta mereka berawal dari kereta api juga pada zaman tempo doeloe..cie..cie..

Tapi kisah ini berbeda tentunya dengan kisah Anjli yang meninggalkan Rahul di stasiun kereta api dalam sinema kuch kuch tah ape. Lebih mirip filmnya Rahul dan Anjli sama sama berjualan asongan di stasiun kereta api Tembung, emang ada ya? Ntahlah, kalaupun ada filmnya belum tayang..hehehehe

Kembali ke cerita kita, di sini saya kembali menemukan hakikat kebahagiaan ternyata tidak harus berbalut kemewahan. Tahukah anda, di luar sana, banyak orang yang mengendarai mobil mewah ke sana kemari, tapi hatinya berantakan tak karuan. Ada juga yang selalu berada di atas awan menaiki pesawat, namun ia tak mampu memejamkan mata sebab pikiran yang kalut.

Kapal pesiar punya, mobilnya mewah, supirnya banyak, mogenya tersusun rapi. Tapi sayang, ia tak pernah menikmati perjalanannya dengan bahagia. Di seberang sana, ada sepasang suami istri beserta anak kecil dalam boncengan sepeda motor butut milik ayahnya, masih sempat bercanda ria dan tertawa lepas di jalanan. Terkadang bila hujan turun, mereka memilih tidak menepi untuk berteduh, malah menganggap sedang dimanjakan Tuhan dengan air shower gratis, sampai rumah tinggal sabunan. Bila terik matahari menyengat, di saat itulah mereka merasakan seruan Tuhan untuk berbagi rezeki dengan penjual cendol di pinggir jalan, dan itulah saatnya menikmati rezeki yang lain.

Kondisi demikian barangkali tak pernah dirasakan oleh mereka yang sehari harinya berada dalam kendaraan mewah yang dingin full AC. Dan uniknya, hal tersebut tak manjadikannya pandai bersyukur dan berbahagia.

#salamcinta

Permata Kebahagiaan

Berbesar hati menerima kelebihan orang lain akan membantumu menerima ketenangan jiwa.

Keserakahan hati melihat nikmat orang lain bisa memupuk sifat dengki yang dibenci.

Setiap orang memperoleh haknya sesuai kadar yang sudah ditentukan. Bisa jadi kadar yang seharusnya kita dapati lebih besar daripada orang lain, tapi karena kita kurang bekerja keras dan cerdas sehingga ia luput dari pencapaian.

Bisa jadi permata itu ada di dasar tanah rumah kita, namun kita mencari benda itu sampai keluar rumah pada jarak yang jauh, dan kembali tanpa hasil apa-apa.

Maknanya, kerja juga mesti dibarengi keikhlasan agar kita mudah memperoleh petunjuk dimana letak nikmat tersebut tanpa kita berlelah lelah mengejarnya. Itulah yang disebut sebagai orang diberi petunjuk.

So, maksimalkan kembali potensi anda untuk mendapatkan result yang luar biasa tanpa harus terusik hatimu dengan hasil pencapaian nikmat orang lain, bila ikhtiar itu juga belum berbuah melampaui nikmatnya, artinya kita wajib menggali lebih dalam lagi muara sumber rezeki arau kebahagiaan itu.

#salamcinta