
Seorang pemuda selalu merasa sesak di dadanya, nafasnya terkadang kurang teratur, pada beberapa moment sempat ngos-ngosan dan pada saat yang bersamaan jantungnya maraton memompa darah. Ujung-ujungnga dia meragukan kesehatannya dan berangkat segera ke dokter kesayangannya untuk mendeteksi penyakitnya.
Setelah beberapa menit alat spirometri bekerja pada tubuh pemuda tersebut, sang dokter terlihat mengerutkan dahinya dan kemudian tersenyum, “alhamdulillah bapak sehat, tak ada masalah dengan paru paru bapak, barangkali sesak selama ini yang bapak derita bukan karena sakit di paru-paru bapak.” Jelas dokter. “Maksud Anda pak dokter?” Pasien barunya itu menimpali tak sabar. ” Iya, barangkali anda belakangan ini kurang bersyukur, terlalu repot dengan nikmat orang lain, sehingga saudara hanya fokus pada kelebihan orang lain dan mengabaikan potensi diri sendiri.” Dokter menjelaskan lugas dan blak-blakan.
Dokter menarik nafas perlahan bersiap melanjuti kuliahnya, “asal anda tahu, sudah banyak orang datang ke sini dengan keluhan yang sama dan setelah diperiksa ternyata fokus penyakitnya bukan yang disangkakan pasien itu semua, melainkan biangnya adalah itu tadi, mereka lebih fokus pada kekurangan yang ada pada dirinya, dan membandingkan itu semua dengan kelebihan pada orang lain, itulah yang membuat nafas tak teratur dan akhirnya sesak. Dan sampai nikmat kebahagiaan hidupnya pun sirna dengan selalu memelihara cara pandang model begituan.” Sambungnya.
“Mohon maaf, saran dokter?” Tanya pemuda yang sejak tadi manggut-manggut. “Saya tidak akan memberi anda resep, tapi yang ingin saya sampaikan adalah, anda berhak untuk bahagia tanpa didikte oleh orang lain, anda berhak sehat tanpa dipengaruhi pikiran negatif tentang diri anda dan orang lain, fokus saja pada hal yang membahagiakan hatimu tanpa mengusik kebahagiaan orang lain. Seperti pekerjaan kami, kami akan bahagia bila melihat pasien kami yang seperti anda kembali sehat dan bahagia.” Tutupnya dengan pandangan persahabatan dan jabat tangan erat.
#salamcinta




