Menguji Spirometri

Seorang pemuda selalu merasa sesak di dadanya, nafasnya terkadang kurang teratur, pada beberapa moment sempat ngos-ngosan dan pada saat yang bersamaan jantungnya maraton memompa darah. Ujung-ujungnga dia meragukan kesehatannya dan berangkat segera ke dokter kesayangannya untuk mendeteksi penyakitnya.

Setelah beberapa menit alat spirometri bekerja pada tubuh pemuda tersebut, sang dokter terlihat mengerutkan dahinya dan kemudian tersenyum, “alhamdulillah bapak sehat, tak ada masalah dengan paru paru bapak, barangkali sesak selama ini yang bapak derita bukan karena sakit di paru-paru bapak.” Jelas dokter. “Maksud Anda pak dokter?” Pasien barunya itu menimpali tak sabar. ” Iya, barangkali anda belakangan ini kurang bersyukur, terlalu repot dengan nikmat orang lain, sehingga saudara hanya fokus pada kelebihan orang lain dan mengabaikan potensi diri sendiri.” Dokter menjelaskan lugas dan blak-blakan.

Dokter menarik nafas perlahan bersiap melanjuti kuliahnya, “asal anda tahu, sudah banyak orang datang ke sini dengan keluhan yang sama dan setelah diperiksa ternyata fokus penyakitnya bukan yang disangkakan pasien itu semua, melainkan biangnya adalah itu tadi, mereka lebih fokus pada kekurangan yang ada pada dirinya, dan membandingkan itu semua dengan kelebihan pada orang lain, itulah yang membuat nafas tak teratur dan akhirnya sesak. Dan sampai nikmat kebahagiaan hidupnya pun sirna dengan selalu memelihara cara pandang model begituan.” Sambungnya.

“Mohon maaf, saran dokter?” Tanya pemuda yang sejak tadi manggut-manggut. “Saya tidak akan memberi anda resep, tapi yang ingin saya sampaikan adalah, anda berhak untuk bahagia tanpa didikte oleh orang lain, anda berhak sehat tanpa dipengaruhi pikiran negatif tentang diri anda dan orang lain, fokus saja pada hal yang membahagiakan hatimu tanpa mengusik kebahagiaan orang lain. Seperti pekerjaan kami, kami akan bahagia bila melihat pasien kami yang seperti anda kembali sehat dan bahagia.” Tutupnya dengan pandangan persahabatan dan jabat tangan erat.

#salamcinta

Sakit, jangan bingung !!!

Kemarin maghrib Azka terjatuh dari tempat tidur karena mengantuk, anak balita tersebut bisa dikatakan setiap tidur tak pernah terjatuh, namun hari itu karena mengantuk dan ia sedang duduk di tepi tempat tidur akhirnya melayang layang dan “braakk” landing bebas ke lantai.

Diapun meraung-raung kesakitan dan meminta diambilkan minyak bud bud segera. Sejenis minyak herba yang berasal dari burung bud bud yang dipercaya mampu menyembuhkan banyak penyakit. Karena kalau sakit demam ataupun perut bundanya selalu mengoleskan minyak tersebut padanya, sehingga Azka berpikir di dunia ini satu satunya obat ampuh itu hanya minyak bud bud.

Saat ini, meskipun bundanya sedang di luar rumah, bila ia mengalami kesakitan pasti langsung mencari minyak itu dengan sendirinya. Dan selanjutnya ia langsung bermain seperti sedia kala, kadang saya bingung apa benar sembuh beneran dan secepat itu khasiatnya, ntahlah, yang pasti keyakinannya sudah mempengaruhi hormon dalam tubuhnya.

Nah, indah sekali bila kita sedang punya masalah atau kesulitan memiliki hanya satu formula yang diyakini mampu menyembuhkannya. Banyak orang yang memiliki ketergantungan pada obat terlarang bila ingin menghilangi stres, ada orang yang langsung tancap gas ke tempat rekreasi, ada pula yang banyak makan karena pikiran kalut. Ada ada saja ya…

Coba bayangkan, bila pikiran kita memiliki ketergantungan pada hal positif seperti Azka yang selalu berpikir jika minyak herba khasiat itulah obat satu satunya yang mampu meredakan sakitnya. Nikmat sekali jika “Tuhan” adalah tempat kita kembali setelah mengalami kebuntuan seluruh masalah. Bahkan Alquran menjadi sumber energi besar kita saat pikiran sudah mulai kacau.

Setiap hati, badan atau pikiran sudah terasa akan sakit, langsung mencari obat pamungkas untuk pencegahan atau pengobatannya, bila beralih dari itu semua, maka yakinlah itu adalah pengobatan sesaat yang hanya menghilangkan rasa sakit tapi bukan sumber penyakitnya.

#salamcinta

Bahagiakan hatimu

Bahagia itu sederhana, cukup hatimu tenang dan pikiranmu nyaman, pasti kamu berbahagia.

Bahagia adalah anugerah tak ternilai bagi insan yang terpilih. Raja yang berkuasa belum tentu berbahagia sebab ketakutan konspirasi. Seorang miliarder juga belum pasti bahagia karena rasa was was persaingan. Orang terkenal sekalipun bisa jadi tak berbahagia akibat kekhawatiran hilang ketenaran.

Hmmm. Jadi dimana kita memperoleh kebahagiaan? Carilah di hatimu, coba selami perlahan dan kais dengan teliti apa mungkin di situ kamu menemukan noda yang menjadikan kebahagiaanmu itu tak tampak. Sekecil apapun itu, semuanya berpotensi menjadikan hatimu itu menderita, bak jerawat kecil yang nongkrong indah di wajah yang mulus, pasti sungguh melukai.

Hati adalah mahkota kehidupan, ia permaisuri yang menggoda sikapmu, perilakumu bisa terlewat batas sebab rayuan berbahaya darinya. Bila hati terus bergemuruh demikian, maka jantung akan berdegup kencang dan akhirnya mengantar aliran listrik pikiran pikiran negatif yang justru melengkapi cedera kebahagiaanmu.

So, kalau nikmat kebahagiaanmu mulai terusik, coba periksa hati dan pikiranmu, barangkali ada yang mesti direcovery untuk mengaktifkan kembali kebahagiaan yang hampir pergi. Bahagiakan hatimu.

#salamcinta

Ternyata usia Abu Bakar lebih muda daripada Rasul

Pada postingan yang lalu saya bercerita soal 3 B, apa itu? Ntahlah, silahkan buka kembali catatan sebelum ini, yang pasti tak ada kaitan dengan pensil 2 B milik kita saat ujian UN dulu, atau B pangkat tiga sekalipun. Ups…

Dalam komentar tulisan tersebut ada yang mengira kalau saya tengah membahas faceapp, ternyata meleset, sampai saat ini saya belum melakukannya meskipun sedang viral digandrungi oleh kawula muda seperti kami. Bukan sebab lain, alasannya adalah karena saya tak sanggup melihat wajah tua ini kelak bersamamu..ciee.ciee..biarlah ia menjadi rahasia di akhir zaman.

Iseng-iseng cerita soal tua yang lagi viral tersebut, saya mencoba bertanya sama orang sekitar saya, “mana lebih tua Rasul atau Abu Bakar?”. Biasanya sepakat menjawab Abu Bakar lebih tua. Kalau ternyata jawaban Anda juga sama selama ini, ternyata Anda langsung tervonis bersalah tanpa keputusan pengadilan..hehehehe

Tahukah kita, ternyata Abu Bakar dilahirkan 2 tahun beberapa bulan setelah kelahiran Rasulullah pada tahun gajah, sedangkan Usman 6 tahun setelah tahun gajah, sedangkan Umar 13 tahun setelah tahun gajah (Kitab Tarikhul Khulafa : Imam Suyuuthi)

Anda tak perlu langsung googling (kan ketahuan penasaran), sudah amini saja. Mari sama-sama ucapkan, “aamiiin”. Penasaran Anda itu wajar sebab selama ini kita mendapati maklumat soal Abu Bakar yang sangat bijaksana dan tempat Rasulullah curhat, ditambah lagi beliau adalah mertua sendiri Rasulullah yang telah menikahi anaknya Aisyah RA. Dengan info demikian, kita selalu berprasangka bahwa Abu Bakar adalah sosok mertua yang benar-benar tua, terus kalau mertuanya masih muda apaan dong namanya, ya gak boleh diganti menjadi mermuda lah. Padahal sesungguhnya.meskipun beliau lebih muda namun dapat menjadi sahabat yang baik bagi yang melebihi usianya.

Jadi, usia tua tak penting, wajah tua bukanlah kebanggan, tak perlu bahagia bila mampu menampilkan ilustrasi wajah tua kita kelak di kemudian hari. Yang penting adalah bagaimana sikap kita meskipun masih berusia muda namun mampu memiliki kebijaksanaan layaknya orang tua. Bukan perkara siapa yang lebih banyak makan asam garam, tetapi siapa yang mampu menjadikan rasa kecut dan asinnya asam garam kehidupan itu menjadi manis akibat kebahagiaan. Itulah disebut sebagai orang yang berbahagia.

Oh iya, satu lagi fakta soal Abu Bakar, ternyata nama asli beliau bukan itu, tapi adalah Abdullah bin Abi Quhafah, Ia mendapatkan julukan atau nama panggilan Abu Bakar, yang berasal dari kata al-bikru yang berarti unta muda. Bentuk pluralnya adalah Bakaarah dan Abkur. Orang – orang Arab menamai Bakar bila ia seorang ayah dari suatu kabilah yang besar.

Dah itu dulu, sampai jumpa esok hari ya…..

#salamcinta

Bahagia Berakhir Bencana (3 B)

Saya masih ingat, hari dimana teman saya mendapatkan karunia seorang anak yang lucu, wajah teman saya itu terlihat bahagia dan sumringah. Dia berbahagia.Seorang rekan kerja mengundang saya dalam acara pernikahannya sekitar dua tahun lalu, saya menghadirinya, wajahnya terlihat senang. Dia berbahagia.Teman akrab saya baru saja membeli mobil berwarna hitam mulus keluaran pabrik Jepang, dia bercerita panjang lebar soal keunggulan mobilnya itu kepada saya dengan semangat. Dia bahagia.Sejalan waktu bergulir. Teman yang memperoleh anak pintar tersebut mengadu pada saya soal “kenakalannya”, ia bersedih. Rekan kerja yang telah menikah itu mengabarkan pada saya bahwa ia tengah mengurus perceraiannya. Ia bersedih. Teman akrab yang memiliki mobil baru itu menyampaikan kepada saya keinginannya untuk menjual kembali dengan harga murah. Ia bersedih.Saya belajar, ternyata bahagia yang pernah diperoleh bisa mengakibatkan bencana kesedihan. Sesuatu yang saat ini mampu membuat diri berbahagia, bersiap-siaplah esok hari akan ada duka diakibatkannya. Ketika peluang kebahagian diperoleh, maknanya ada potensi kesedihan di ujung cerita.Kehilangan adalah keniscayaan bagi oran

g yang memiliki. Jika tak ingin kehilangan, lebih baik berharaplah untuk tak memiliki apapun. Bukan kepemilikan yang menjadi masalah, karena tak ada larangan untuk itu, tapi rasa memiliki yang kuat dan kekufuran nikmatlah yang membuat susah melepaskannya. Dan ujung-ujungnya adalah kesedihan.Bagi Anda yang memiliki cinta, harta dan apa-apa. Rawatlah rasa bahagia itu selamanya, jangan beri ruang duka yang dalam di akhir masa. Bersyukur dengan nikmat yang tertera sehingga tak ada waktu untuk merana.#salamcinta